Roy Ahmad Sketsa

Sketsa Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 20 pengikut lainnya

  • Sketsa Like Facebook

Sssssttt

Posted by Sketsa Noise pada 20 Februari 2012


Sebuah-ucapan-terima-kasih-untuk:

Kegelapan [TerimaKasih atas hitam-legam jiwa-ragamu yang telah memikat cahaya masuk dari segala sudut]; Ketiadaan [TerimaKasih atas hamparan lahan kosongmu yang telah memberiku kesempatan mengayun langkah menjadi Raja dan Ratu yang Agung tanpa istana, mahkota, kilau busana, maupun balatentara]; Kehampaan [TerimaKasih atas benih tanda tanyamu yang telah menebar dirinya ke segala sendi maupun ke setiap rongga, tumbuh akbar hingga keluar pagar, bagai ilalang yang hidup tanpa butuh sentuh dan berguna tanpa butuh anak-mama bernama makna. Karena semata-mata aku hanya milikmu, kurungkan niatku ‘me-nyata-kan’ Cint…].

Ketika gemulai angin menyisir dedaun pohon kelapa di tepi pantai, aku merasa dirimu yang jauh di sana melambai-lambai memanggil belai, seperti gadis mungil menjelaskan kerinduan tak tertahan pada sahabat nakalnya yang lupa jalan pulang. Saat itu sepintas lalu kulihat burung-burung camar mengudara menuju arah matahari tenggelam. Namun semuanya sudah tak dapat kuingat lagi dengan terang. Karenanya, biarlah, pesisir ini menguburku pada ceruk tubuhnya yang paling dalam. Kini kupejamkan mata, mengheningkan hadirmu, dan aku membaring tubuh di kedalaman pantai serupa seekor kumang menanti sarang baru. Kelak jika perahumu sampai di pantai dan menjumpai semesta kumang menari di sepanjang rekah bibirnya, jangan cari aku di antara mereka; jangan bawa aku pulang, Ana. Sebab nanti kau terlentang seperti aku. Telanjang menanti sarang yang dulu. Sarang yang lugu.

Entah sudah berapa juta abad aku terpisah darimu. Hampir sepanjang detik di antara pecahan karang yang menahan deburan ombak ke pesisir, aku merayap diam-diam hanya untuk mencari sidik jarimu. Sayang beberapa ratus tahun lalu gelombang dahsyat dan hujan badai telah menyapu sidik jari itu. Dalam langkah ingatanku kini, yang masih bertahan hanyalah bayang bilik bambu dekat pohon kelapa, tempat kita pernah bersitatap begitu lama sebelum bersepakat pergi melarungi samudera.

Aku tahu, kau tak mungkin lupa saat-saat terakhir yang paling menentukan itu. Saat aku meyakinkanmu untuk berlayar di musim hujan, mengajakmu menyusup ke sela sampan seorang nelayan tua, kau hanya tersenyum malu sambil mengayunkan kepala ke samping kiri dan kanan. Aku mengartikan getar bibirmu dan ayunan kepalamu itu sebagai pertanda malam akan segera selimuti kita.

Ana, tahukah kau, betapa pun perihnya luka yang kureguk dari senyummu itu, aku sama sekali tak pernah jemu membayangkan lembut pantai bibirmu, bahkan sekejap pun tak. Hanya kau yang mampu taklukan semesta hati dengan sebuah senyuman. Ana, seandainya aku tak pernah mengulum luka dari senyummu, mungkin aku tak akan pernah ingat padamu. Dan seandainya aku ingat, pastilah rinduku ini hanya retakan gerimis yang berwarna sama dengan kubangan lumpur.

Memang, jalan menuju kediamanmu masih teramat jauh, seperti jalan menuju masa silam yang mustahil dapat direngkuh. Tapi Ana, peri mungilku yang lucu, lilin kuning di rongga dada yang dinyalakan waktu `tuk hangatkan diri di bibir pantai, tanpa kusadar telah meyibak tirai jendela untuk bertatap mata denganmu, seperti ingin mencairkan rindu yang berabad lama diam membeku. Itulah yang membuatku masih bisa bernafas dalam tidur panjang ini. Bertahan memburu tilas lentik jarimu. Kau ingat bukan kejadian tak lazim di sudut bilik bambu itu, ketika aku mengeja kerling matamu dengan lumpuh lambaian tanganku, matamu tiba-tiba mengerjap-kerjap dan pipimu kian merona merah? Adakah kau ingat itu, Ana? Adakah itu kau kenang? Ah, sudahlah, mungkin kau lupa. Tapi mungkin juga aku mengada-ada.

Entah kenapa, setelah berabad lamanya terlelap, menyusun reruntuhan masa silam dalam mimpi, sidik jarimu tak kunjung juga kutemukan. Sedang di dalam timbunan pasir pantai ini, bayangan ayu wajahmu begitu setia menemaniku. Seperti tongkat dan dayung, bayang wajahmu memapah langkah tertatihku menuju persembunyian sidik jarimu. Tetapi, sekedar kau tahu Ana, bayang wajahmu itu seperti duri mawar yang mampu membuatku benar-benar terlelap. Tidur tanpa mimpi. Bayang wajahmu bagai putri duyung genit yang kerap menebar pukau dan membuat para pelaut mabuk hingga melupa bibir pantai. Sebab itu, sepanjang aku mencari sidik jarimu, aku tak lupa memejamkan mata, agar tak bernasib sama dengan para pelaut yang jatuh ke haribaan duyung-duyung manja, tak sempat menggapai pesisir pantai utara. Maafkan aku Ana, aku hanya mampu memandangimu dari kedalaman dada. Dari ceruk tubuh pantai yang paling dalam, aku hanya mampu menitipkan rindu pada udara malam yang beku, bukan pada ikan-ikan atau yang lain. Kau sering bukan merasakan gigil di siang hari, ketika burung malam lelap tanpa mimpi, ketika kunang-kunang dan jangkrik bernyanyi sembunyi-sembunyi? Seperti itulah rinduku menyapamu. Rindu yang kurangkai berabad-abad lalu dalam dingin keheningan dan kerterasingan.

Sepertinya jarak di antara kau dan aku kian menjauh. Dan mungkin, kau dan aku mustahil menjadi kita—menjadi garam dan asinnya, menjadi samudera dan ombaknya: aku tak lebih dari keong hitam yang berjalan di ujung daun penuh lubang. Sedang kau, ah Ana, mustahil dapat kubayangkan seindah apa dirimu sekarang. Bahkan menurutku segenap penyair dan pelukis terbaik dari segala penjuru alam pun tak ‘kan mampu melukiskan keindahan dirimu itu. Tahukah kau, Ana, dahulu saat kau dan aku berpisah, kembali ke asal masing-masing, seusai bersitatap begitu lama di bilik bambu dekat pohon kelapa, aku sebenarnya tak mengingat raut-garis wajahmu. Yang kusimpan dan kurawat dalam benak hingga detik ini, hanyalah bibirmu yang rapat terkunci; bibir pantai yang enggan mengucap selamat jalan pada segala yang berlayar.

###

Sebegitu indahkah sekejap perjumpaan di kala kejauhan-jarak kian menderu menyalakan rindu? Di masa lalu, kau setia sepanjang waktu berujar begitu. Aku tak menjawabnya dengan gelengan kepala, sebab bagiku, cinta tak punya sepatah pun tanda maupun kata. Menghayati ucapanmu itu aku selalu bertanya, “adakah yang akan kau katakan jika aku menemuimu, memandangi matamu?” Kau akan diam, aku tahu; kau tersipu, tundukan kepala tanpa kata-kata, aku mengerti, sebab sejak lama kau memang tak ingin bertemu maupun berpisah. Kau dan aku berasal dari langit yang sama, katamu. Sama sekali tak perlu bertemu atau berpisah. Sama sekali tak perlu mengucapkan selamat datang maupun selamat tinggal.

Ya, aku kini mengerti kenapa sidik jarimu di sepanjang pantai tak bisa kutemui, dan rindu yang kutitipkan kepada udara malam tak pernah kembali lagi. Inikah yang disebut perjumpaan sekaligus perpisahan abadi, di antara ruang dan waktu yang teramat jauh?

“Bukankah ruang dan waktu hanyalah fatamorgana yang menjaga cinta dengan airmatanya?” tanyaku pada tuli telinga sunyi. Senja tengah berganti wajah, seusai malam memberikan polos gaunnya yang hitam. Bulan lelap diselimuti kelabu gemawan-awan, menjelma keheningan luar angkasa yang tak berbatas.

Kau basahi pipi sebelum berkata, “jarak tak lebih dari pelindung aurat cinta yang tak mengharapkan apa-apa, ia kelak akan terhapus oleh rasa yang tulus.”

Aku sadar, rangkaian kata itu adalah caramu untuk menutup debat-kusir tentang pertemuan dan perpisahan. Mungkin aku menderita melankoloia stadium akhir. Sekali pertemuan terjadi, maka ia akan abadi meski berkalang tanah nanti; pertemuan hanya ada apabila jiwamu menerima perpisahan, bukan?

Uh, pada tepi pantai kini, ada makhluk yang berpura-pura tak mendamba perjumpaan pertama. Ya! Akulah itu. Sejujurnya, dalam kepalaku, semesta alam dan segenap isinya begitu sibuk. Angin bertiup kencang sepanjang hari. Marga satwa menghibur dengan kisah-kisah musafir yang tenggelam di gurun pasir. Anak-anak bernyanyi sepanjang nafas, sebab kehilangan lapar dan dilupakan kampung halaman. Segalanya tulus menumpahkan makna derita yang indah. Berbagi tawa-canda dalam dinginnya sepi. Anehnya, aku menanggap semua itu tak pernah ada. Sebab dalam kepalaku, hanya ada satu orang yang kurasa tulus bekerja. Ya! Kau. Hanya kau, Ana.

Selain dirimu, tak ada yang sanggup kuingat. Aku sudah lupa bahwa daun-daun kelapa pernah merasakan kehijauan, ketika semesta embun menguap diangkat mentari jauh tinggi. Aku juga sudah tak ingat lagi bahwa garam itu asin, gula itu manis, empedu itu pahit: aku sudah benar-benar lupa apa yang disebut cinta. Hanya rasa yang tak henti menderu yang kuingat dan kurasakan sepanjang waktu: Rindu! Karangan bunga pengiring kerandaku, bekalku untuk tetap berpisah darimu.

Ana, bernafas di kedalaman bibir pantai tiada yang lebih dahsyat daripada tergoda untuk bertemu, mencairkan rindu yang berabad telah dirawat begitu beku. Aku tak tega mereguk cairan cinta, lunaskan dahaga derita. Sebab, apalah arti cinta tanpa rindu. Memang, hidup tanpa cinta terasa begitu pahit. Tapi, akan jauh lebih pahit pabila hidup tanpa rindu. Ana, adakah rindu melahirkan kekecewaan seperti cinta? Hidup dan kehidupan adalah pelayaran yang tak butuh pelabuhan. Ya! Seperti rindu. Karenanya, biarkanlah cinta hadir tanpa diminta, tanpa dirasa. Biarkan ia apa adanya. Biarkan ia sendiri rahasiakan dirinya. Biarkan ia tetap menjadi misteri. Abadi.

Meskipun tanah memiliki daya tarik (/gravitasi) yang berbeda dengan api, mengapa dalam tubuh tanah tersimpan api? Ah, alangkah kacau pertanyaan itu. Seperti amuk badai yang hendak meruntuhkan semesta di kejauhan luar angkasa yang tak pernah ada. Menjadi manusia konon jauh lebih mulia ketimbang bernafas di kedalaman pasir pantai sebagai makhluk yang dibenci, yang dimusuhi tapi sering kali diteladani.

Paling tidak, kau tak pernah berhasil melihat tanda-tanda serta isyarat rindu yang kutitipkan pada angin malam dan buih di batas pantai ini. Barangkali, karena tanda dan isyarat yang kukirim itu musatahil dipahami oleh tanah tempat kau melangkah sekarang. Tapi, sejujurnya aku tak punya cara lain selain menitipkan rindu pada angin malam yang tak punya bahasa selain hampa dan sunyi.

Cukup pahamilah bahwa isyaratku mengandung rahasia terpanjang tentang perjalanan hidup yang jauh di bawah tanah. Selain merasakan dahaga tak terkira serta penyesalan yang terdalam, sunyi yang demikan akrab, aku juga merasa bahwa udara hampa di sini jauh lebih sejuk. Pabila kau berjumpa dengan hiu atau paus belang, berteduhlah di balik tubuhnya, kau pasti tenang. Jangan takut, jangan khawatir, mereka itu hanya menjadi pemangsa di kala kebutuhan untuk hidup memaksanya. Sesudah itu mereka adalah makhluk jinak yang pendiam. Suatu kali, selama beberapa abad aku pernah bermain di sekitar taringnya, tapi mereka tak juga menerkamku. Karenanya, perihal memburu atau diburu, di tempatku ini tergantung dari selapar apa keinginan untuk tetap bertahan itu memaksa.

Duniamu sangat tak kupahami. Lewat celah kenangan yang penuh kabut, aku hanya sering melihat ketamakan mendorong manusia ke jurang kehancuran, sering kali hembusan nafas nafsu membius teman-temanmu `tuk berebut kursi raja. Perjalanan mereka seperti angin. Dan pada akhirnya meremehkan pengembaraan yang lain. Lebih celaka lagi, jika kenyataan itu melupakan tanah, daratan tempat mereka berawal dan berakhir.

Aku tak tahu apakah makhluk-makhluk semacam itu mampu menerima jika dianugrahi jalan hidup seperti diriku, makhluk yang dilarang langit untuk berkata baik. Kisahku dalam isyarat-isyarat itu sepenuhnya barangkali hanya berisi bayangan-bayangan ketika aku menjalani mimpi di tempatmu dulu. Itu semua tak lebih dari cara agar aku tetap sadar, agar tak sepenuhnya khilaf. Mungkin hanya semata latihan mengenang kenangan, jika kurasa tiada apa pun yang lebih berharga untuk dipertahankan di sini, kecuali mengingatmu.

###

Ana, setulusnya, itulah usahaku merindukanmu sepanjang langit masih menyimpan biru. Tentang lembaran-lembaran yang kutitipkan pada udara malam itu hanyalah kecipak ombak kecil untuk menyapu lembut bibir pantai. Karena dengan apalagi aku mampu mempertahankan harapan, jikalau segalanya hanyalah pura-pura. Ya! Hanya dengan udara malam segenap masa silam sirami diriku. Betapa hangat dan syahdu bernafas di masa silam, di kala dusun-dusun belum dijamah listrik yang bertopeng ramah, hutan-hutan belum dirambah, semak-belukar belum dibakar, gergaji mesin dan traktor belum mengenal pohonan dan rumputan, dan batu bata belum menjelma gedung-gedung kota penghisap darah kita.

Ana yang baik, adakah kau masih mengingat kedamaian teduh itu? Benarkah kenangan masa silam itu adalah bagian dari siklus kehidupan? Aku sadar, semua yang kutanyakan tak perlu kau jawab. Sebab kau berada jauh dari jalanku yang hitam. Namun kelak di kala pasir pantai kehilangan warna putihnya, aku mungkin bersimpuh di antara surga dan neraka. Barangkali kita bisa berjumpa tanpa tegur-sapa. Tak perlu membawa suara, wajah, tubuh, maupun pancaindra ketika berjumpa nanti. Cukuplah datang dengan perasaan yang bening dan hati yang dingin. Mungkin itulah bekalku kelak di alam sunyi, tetap sendiri, mengembara apa adanya tanpa kemudi, menyalakan redup rindu yang mustahil dapat dipadamkan. Datanglah dengan perasaan seperti bocah yang akrab bersahabat. Sampaikan selamat jalan kepada teman-teman yang masih mengenangku, meski dalam rupa yang teramat beku dan jauh dari segala yang indah seperti dirimu, wahai Ana, teman kecilku…..[*]

(Si Apalah, `08, Seorang kawan yang tidak ingin di cantumkan identitasnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: