Roy Ahmad Sketsa

Sketsa Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 20 pengikut lainnya

  • Sketsa Like Facebook

Konstruksi Sosial

Posted by Sketsa Noise pada 21 Februari 2012


Oleh: Roy Ahmad Sketsa

 Pendahuluan

Mengapa kita selalu beranggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah lembut dan penuh perasaan, sementara kita percaya laki-laki punya sifat sebaliknya, rasional dan lebih mengandalkan kekuatan fisik? Beberapa jawaban menyatakan bahwa sesungguhnya anggapan-anggapan semacam itu semata-mata adalah hasil konstruksi sosial yang sudah mempengaruhi kita begitu lama. Pendapat itu secara tersamar menjelaskan kepada kita bahwa konstruksi adalah sesuatu yang membangun kepercayaan kita berdasarkan klaim-klaim tertentu. Dalam kaitannya dengan sifat-sifat laki-laki dan perempuan, konstruksi tersebut dipercaya dihasilkan oleh sistem masyarakat patriarkal, sehingga memberi keuntungan yang lebih banyak bagi laki-laki.

Apakah realitas dikonstruksikan oleh aktivitas kita? Apakah kita secara kolektif menciptakan dunia, dan bukan menemukannya? Mereka yang cenderung menjawab pertanyaan ini dengan tegas termasuk dalam konstruktivis sosial. Tesis konstruktivis memungkinkan timbulnya beragam penafsiran, mulai dari penafsiran yang dangkal sampai penafsiran yang mampu mengacak-acak tesis ini.

Literatur konstruktivisme (ilmiah) ditulis oleh sosiolog yang cenderung menjadi pendukung konstruktivisme yang bersemangat, dan oleh filsuf filsafat ilmu yang cenderung menjadi kritikus yang kurang meyakinkan bagi konstruktivisme. Persoalan konstruktivisme telah melahirkan bara semangat filosofis. Sebagian pihak menjadi merasa marah atau malu dengan pandangan konstruktivisme, sebagian pihak lainnya sangat bersemangat sehingga menarik kesimpulan yang saling bertentangan dengan nalar yang sumbernya adalah analisis setengah matang. Pada akhirnya, sikap-sikap a priori ini berubah menjadi sikap yang ditopang oleh temperamen intelektual konservatif atau radikal.

Pertanyaannya adalah bagaimana sesungguhnya konstruksi sosial itu beroperasi? Bagaimana kemudian konstruksi-konstruksi itu memberikan pengaruh yang signifikan pada pengetahuan, teknologi, masyarakat dan sebagainya? Apakah semua orang mempercayai adanya konstruktivisme?


Pembahasan
Istilah konstruksi sosial atas realitas (Social Construction of Reality), menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang berjudul “The Sosial Construction of Reality, A Treatise in the Sociological of Knowledge” (1996). Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang mana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.

Asal mula konstruksi sosial dari filsafat konstruktivisme, yang dimulai dari gagasan konstruktif kognitif. Menurut Von Glasersfeld, pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad ini. Dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun apabila ditelusuri, sebenarnya gagasan-gagasan konstruktivisme sebenarnya telah dimulai oleh Giambatista Vico, seorang epistemolog dari Italia, ia adalah cikal bakal konstruktivisme dalam aliran filsafat, gagasannya telah muncul sejak Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia dan sejak Plato menemukan akal budi dan ide. Gagasan tersebut lebih konkrit lagi setelah Aristoteles mengenalkan istilah informasi, relasi, individu, substansi, materi esensi dan sebagainya. Ia mengatakan, manusia adalah makhluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci pengetahuan adalah logika dan dasar pengetahuan adalah fakta.

Descrates kemudian memperkenalkan ucapannya “cogoto, ergo sum” atau “saya berfikir karena itu saya ada”. Kata-kata Descrates yang terkenal itu menjadi dasar yang kuat bagi perkembangan gagasan-gagasan konstuktivisme sampai saat ini. Pada tahun 1710, Vico dalam “De Antiquissima Italorum sapientia”, mengungkapkan filsafatnya dengan berkata “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Ia menjelaskan “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”.

Hal ini berarti seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Menurut vico, bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat mengerti alam raya ini karena hanya Dia yang tahu bagaimana membuatnya dan dari apa Ia membuatnya. Sementara itu orang hanya dapat mengetahui sesuatu yang telah dikonstruksikannya.

Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme yaitu:

1. Konstruktivisme Radikal

Konstruktivisme radikal hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran manusia. Kaum konstruktivisme radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Pengetahuan bagi mereka tidak merefleksikan suatu realitas ontologisme obyektif, namun sebagai sebuah realitas yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. Pengetahuan selalu merupakan konstruksi dari individu yang mengetahui dan tidak dapat ditransfer kepada individu lain yang pasif. Karena itu konstruksi harus dilakukan sendiri olehnya terhadap pengetahuan itu. Sedangkan lingkungan adalah sarana terjadinya konstruksi itu.

2. Realisme Hipotesis

Dalam pandangan realisme hipotesis, pengetahuan adalah sebuah hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realita dan menuju kepada pengetahuan yang hakiki.

3. Konstruktivisme Biasa

Sedangkan konstruktivisme biasa mengambil semua konsekuensi konstruktivisme dan memahami pengetahuan sebagai gambaran dari realitas itu. Kemudian pengetahuan individu dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas obyek dalam dirinya sendiri. Dari ketiga konstruktivisme diatas terdapat kesamaan, dimana konstruktivisme dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada, karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau yang ada disekitarnya. Kemudian individu membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang dilihatnya itu, berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya, yang oleh Piaget disebut dengan skema atau skemata. Konstruktivisme macam ini yang oleh Berger dan Luckman disebut dengan konstruksi sosial.

Berger dan Luckman memulai penjelasan realitas sosial dengan memisahkan kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata atau real dan memiliki karakteristik yang spesifik.

Berger dan Luckman mengatakan institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat nyata secara obyektif, namun pada kenyataannya semuanya dibangun dalam definisi subjektif melalui proses interaksi. Obyektivitas baru bisa terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang lain yang memiliki definisi subyektif yang sama.

Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolik yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupannya. Pendek kata, terjadi dialektika antara individu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Paradigma konstruksi sosial tumbuh berkat dorongan kaum interaksi simbolik. Paradigma ini memandang bahwa kehidupan sehari-hari terutama adalah kehidupan melalui dan dengan bahasa. Bahasa tidak hanya mampu membangun simbol-simbol yang diabstraksikan dan pengalaman sehari-hari, melainkan juga “mengembalikan” simbol-simbol itu dan menghadirkannya sebagai unsur yang obyektif dalam kehidupan sehari-hari.

Ada empat asumsi yang melekat pada pendekatan konstruksionis. Pertama, dunia ini tidaklah tampak nyata secara obyektif pada pengamat, tetapi diketahui melalui pengalaman yang umumnya dipengaruhi oleh bahasa. Kedua, kategori linguistik yang dipergunakan untuk memahami realitas bersifat situasional, karena kategori itu muncul dari interaksi sosial dalam kelompok orang pada waktu dan tempat tertentu. Ketiga, bagaimana realitas tertentu dipahami pada waktu tertentu dan ditentukan oleh konvensi komunikasi yang berlaku pada waktu itu. Karena itu, stabilitas dan instabilitas pengetahuan banyak bergantung pada perubahan sosial ketimbang realitas obyektif di luar pengalaman. Keempat, pemahaman realitas yang terbentuk secara sosial membentuk banyak aspek kehidupan lain yang penting. Bagaimana kita berpikir dan berprilaku dalam kehidupan sehari-hari umumnya ditentukan oleh bagaimana kita memahami realitas.

Unsur-Unsur Konstruksi Sosial

Berdasakan kenyataan sosial, unsur terpenting dalam konstruksi sosial adalah masyarakat, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan atau norma, baik itu norma adat, agama, moral dan lain-lain. Dan, semua itu nantinya akan terbentuk dalam sebuah struktur sosial yang besar atau institusi dan pertemuan. Struktur sosial atau institusi merupakan bentuk atau pola yang sudah mapan yang diikuti oleh kalangan luas di dalam masyarakat. Akibatnya institusi atau struktur sosial itu mungkin kelihatan mengkonfrontasikan individu sebagai suatu kenyataan obyektif dimana individu harus menyesuaikan dirinya.

Gambaran tentang hakikat kenyataan sosial ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih dari pada jumlah individu yang membentuknya. Tambahan pula ada hubungan timbal-balik dimana mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Tetapi seperti sudah dijelaskan diatas, masyarakat tidak pernah ada sebagai sesuatu benda obyektif terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu terdiri dari kenyataan proses interaksi timbal-balik (dialektika). Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya individu yang riil) dan pandangan realis atau teori organik (yang mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersifat independent dari individu yang membentuknya).

Seperti contoh dari kehidupan sehari-hari dapat dikemukakan untuk menggambarkan proses sosialisasi itu. Misalnya, sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di terminal lapangan udara tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi kalau ada pengumuman yang mengatakan bahwa kapal akan tertunda beberapa jam karena tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang di sampingnya, dan di sanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini “masyarakat” (atau tingkat “sosialisasi”) yang muncul akan sangat rapuh dan sementara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya itu bersifat sementara saja.

Proses sosialisasi sangatlah bermacam-macam, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing di tempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosialisasi ini mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi suatau masyarakat (kelompok atau asosialisasi). Pada tingkatan tertentu sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.

Bentuk Versus Isi dari Proses Interaksi

Isi kehidupan sosial meliputi: “insting erotik, kepentingan obyektif, dorongan agama, tujuan membela dan menyerang, bermain, keuntungan, bantuan atau instruksi, dan tidak terbilang lainnya yang menyebabkan orang untuk hidup bersama dengan orang lainnya, untuk mempengaruhi orang lain dan untuk dipengaruhi oleh mereka. Tetapi berbagai tujuan dan maksud ini tidak bersifat sosial dalam dirinya sendiri.

Semuanya merupakan faktor-faktor dalam asosialisasi hanya apabila mereka mengubah kumpulan (aggregation). Individu-individu belaka yang saling terisolasi menjadi bentuk-bentuk berada bersama dengan orang lain, bentuk-bentuk yang digolongkan dalam istilah umum yakni interaksi. Jadi sosialisasi adalah bentuk (jumlahnya banyak dan berbeda-beda) dimana individu-individu menjadi bersama dalam satuan-satuan yang memuaskan kepentingan-kepentingan mereka. Sosiologi “murni” atau “formal” mengisolasikan bentuk-bentuk ini hanya untuk kepentingan analisa, seperti halnya gramatika mengisolasikan bentuk-bentuk bahasa yang diterima dari isinya yang dinyatakan melalui bahasa.

Isi dan bentuk interaksi dapat bermacam-macam, betapapun berbeda-bedanya kepentingan-kepentingan itu yang menciptakan sosialisasi-sosialisasi ini, bentuk-bentuk dimana kepentingan-kepentingan itu diwujudkan bisa identik satu sama lain. Dan dilain pihak, suatu kepentingan yang menurut isinya bersifat identik bisa mengambil bentuk dalam sosialisasi-sosialisasi yang sangat berbeda. Kepentingan ekonomi diwujudkan dalam kompetisi dan organisasi prosedur yang terencana, baik dalam isolasinya melawan kelompok lain maupun dalam gabungannya dengan kelompok-kelompok lain itu.

Perbedaan antara bentuk dan isi dapat dilihat dalam suatu ruang kelas. Andaikan besarnya bersifat konstan, maka bentuk interaksi dalam satu kelas psikologi akan mungkin sama dengan yang terdapat dalam satu kelas geologi, meskipun pokok permasalahannya berbeda. Terlebih lagi, kalau kedua contoh ini berhubungan dengan isi pendidikan. Ciri-ciri tertentu dari bentuk superordinasi dan subordinasi (dominasi dan ketaatan) yang sama mungkin terdapat dalam suatu perusahaan dagang dalam hubungan antara pengawas dan staf. Mungkin ada beberapa perbedaan penting antara situasi-situasi ini, tetapi mereka tidak dapat dianalisa menurut suatu bentuk yang lain.

Hubungan antara bentuk dan isi bersifat dinamis. Meskipun bentuk sosialisasi atau interaksi merupakan alat untuk mencapai tujuan dan memenuhi berbagai kepentingan, bentuk-bentuknya itu dapat dipisahkan dari isinya, dan karenanya bentuk-bentuk itu dapat dilihat demi bentuk-bentuk itu sendiri. Kalau sosialisasi atau interaksi itu dipisahkan isinya sendiri atau isi yang tidak ada hubungannya dengan itu, maka bentuk yang dihasilkan adalah sosiabilita. Dalam beberapa hal semua interaksi bersifat sosiabel atau sekurang-kurangnya bersifat sosial. Tetapi sosiabilita sebagai suatu bentuk yang murni, merupakan interaksi yang terjadi demi interaksi itu sendiri dan bukan unutk tujuan lain.

Contoh sosiabilita ada banyak, yang paling jelas adalah interaksi dalam suatu silaturahmi. Harapan dari diadakannya silaturahmai adalah bahwa orang akan berinteraksi, tetapi interaksi mereka tidak terbatas pada masalah praktis sehari-hari. Dalam beberapa hal, percakapan mengenai hal-hal yang terjadi setiap hari sebenarnya dianggap kurang menarik. Misalnya, orang bisa bekerja sama dengan baik dalam kantor bertahun-tahun lamanya dan mempunyai kepentingan yang sama, tetapi pada waktu silaturahmi Natal, orang mengerti bahwa mereka tidak akan membicarakan masalah bisnis. Orang yang selalu memasukkan masalah-masalah pekerjaan sehari-hari dalam percakapan, mungkin cukup membosankan, seperti seorang pertapa yang duduk di sudut jalan dan tidak mau bergaul.

Pemisahan isi materil atau yang praktis dari bentuk sosabilita yang murni dapat juga diamati dalam interaksi antara orang-orang asing. Mereka tidak memiliki “isi” kehidupan sehari-hari yang sama, hubungan mereka satu-satunya adalah kehadiran mereka bersama yang sementara sifatnya. Mereka mungkin saling bersikap acuh tak acuh, tetapi kalau mereka memulai berinteraksi, maka interaksinya itu akan mungkin mencerminkan bentuk sosiabilita yang murni. Jadi mungkin mereka bersenda gurau mengenai cuaca, meskipun mereka tidak saling membutuhkan informasi, dan mereka mengetahui hal itu. Pokok pembicaraan tidak sepenting kenyataan yang menjadi dasar bagi bentuk sosiabilita.

Contoh Konstruksi Sosial

Eksploitasi Perempuan di Media Massa

(Berkaca dari Iklan dan Pemberitaan erotisme)

Keindahan perempuan adalah cerita klasik dalam sejarah umat manusia. Dua hal itu pula menjadi dominan dalam inspirasi banyak pekerja seni dari masa kemasa. Namun ketika perempuan menjadi simbol dalam seni-seni komersial, maka kekaguman-kekaguman terhadap perempuan itu menjadi sangat diskriminatif, tendensius dan bahkan menjadi subordinasi dari simbol-simbol kekuatan laki-laki. Bahkan terkadang mengesankan perempuan menjadi simbol-simbol kelas-kelas sosial dan kehadirannya dalam kelas tersebut hanya karena kerelaan yang dibutuhkan laki-laki.

Saat ini ketika karya-karya seni kreatif seperti iklan menjadi konsumsi masyrakat dalam berbagai media massa, posisi perempuan ini menjadi sangat potensial untuk dikomersialkan dan dieksploitasi, karena posisi perempuan menjadi sumber inspirasi dan juga tambang uang yang tak habis-habisnya. Eksploitasi perempuan dalam pencitraan media masa tidak saja karena kerelaan perempuan, namun juga karena kebutuhan kelas sosial itu sendiri, sehingga mau ataupun tidak kehadiran perempuan menjadi sebah kebutuhan dalam kelas sosial tersebut.

Sayangnya kehadiran perempuan dalam kelas sosial itu masih menjadi bagian dari refleksi realitas sosial masyarakatnya, bahwa perempuan selalu menjadi subordinat kebudayaan laki-laki. Karenanya, tetap saja perempuan di media massa adalah “perempuannya lelaki” dalam realitas sosialnya. Namun dalam konteks perempuan, terkadang perempuan tampil dalam bentuk yang lebih keras dan keluar dari stereotif perempuan sebagai sososk lembut dan tak berdaya. Perempuan juga sering tampil sebagai perayu, penindas, dan bahkan sebagai pecundang. Sosok perempuan ini banyak ditemukan dalan iklan media, sekaligus merupakan rekonstruksi terhadap dunia realitas perempuan itu sendiri. Di dalam banyak iklan yang didapatkan di masyarakat, stereotif perempuan juga bisa digambarkan secara bebas, yang mana ia bisa menjadi penindas (iklan Sabun Omo serial si putih dan si merah).

Perempuan juga harus tampil cantik secara fisik dan tetap awet muda bila ingin sukses, mampu mengurus semua keperluan rumah tangga dan anggota keluarga dan sebagai objek seks. Iklan juga menghidupkan stereotif lama tentang perempuan, akhirnya kembali juga ke dapur. Kemudian iklan juga menghidupkan selera lama kepada perempuan berambut panjang. Seperti umumnya iklan shampoo mengunakan bintang iklan berambut panjang dan lurus untuk menumbuhkan rasa ketertarikan kepada produk tersebut.

Kesimpulan
Pada dasarnya manusia sebagai individu telah melakukan konstruksi sosial. Semua ini bisa kita lihat ketika seseorang melakukan interaksi dengan orang lain, pada proses interaksi tersebut masing-masing pihak berusaha untuk mempengaruhi orang lain agar mempercayai ucapannya. Melalui proses interaksi yang terus menerus akan menghasilkan suatu kesesepakatan bersama.

Kesepakatan bersama pada akhirnya akan membentuk struktur dalam masyarakat seperti norma, etika, sistem dan lain-lain. Struktur sosial atau institusi merupakan bentuk atau pola yang sudah mapan yang diikuti oleh kalangan luas di dalam masyarakat. Akibatnya institusi atau struktur sosial itu mungkin kelihatan mengkonfrontasikan individu sebagai suatu kenyataan obyektif dimana individu harus menyesuaikan dirinya.

Berger dan Luckman mengatakan institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat nyata secara obyektif, namun pada kenyataannya semuanya dibangun dalam definisi subjektif melalui proses interaksi. Objektivitas baru bisa terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang lain yang memiliki definisi subyektif yang sama.

Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolik yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupannya. Pendek kata, terjadi dialektika antara individu menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan individu. Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

Daftar Pustaka

Kukla, Andre. 2003. Konstruktivisme Sosial dan Filsafat Ilmu. Cet. I. Yogyakarta: Jendela.
Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Cet. I. Yogyakarta: LKiS.
Paul Jhonson, Doyle. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid I dan II. Jakarta: PT. Gramedia.
Poloma, Margaret. 1997. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: CV Rajawali.
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

(Jakarta, Sabtu, 04 April 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: