Roy Ahmad Sketsa

Sketsa Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 20 pengikut lainnya

  • Sketsa Like Facebook

Usaha Tanaman Hias

Posted by Sketsa Noise pada 22 Februari 2012


Oleh: Roy Ahmad Sketsa

Jenis usaha tanaman hias ini banyak digeluti oleh masyarakat kebon jeruk. Pada awalnya jenis usaha ini hanya sebuah “keisengan” atau coba-coba saja, yang dikembangkan oleh seseorang yang bernama Yakup, yang kebetulan sekali beliau ini memang sangat hobi dengan tanaman hias, seperti anggrek, palem, kamboja dan lain-lain.

Ketika saya mengadakan wawancara dengan Bapak Yakup, beliau mengatakan “pada awalnya saya hanya iseng-iseng aja, yah itung-itung menyalurkan hobi. Dari pada hobi kita terbuang pecuma kenapa ga kita salurin aja, selain itu saya juga termotivasi dengan keadaan keluarga saya, kamu taukan seorang lulusan sarjana aja belum dia belum tentu dapat kerja, apalagi saya, yang sekolah SD aja ga lulus. Akhirnya dari situ saya berpikir bahwa saya harus bisa menjadi orang yang produktif, tidak tergantung dengan orang lain dan menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat”.

Rupanya usaha yang berangkat dari sebuah keisengan tersebut berkembang pesat seperti sekarang ini. Bahkan saat ini, usaha tanaman hias menjadi salah satu mata pencaharian masyarkat Kebon Jeruk. Yang pembelinya bukan hanya berdatangan dari masyrakat tetangga saja melainkan luar kota dan provinsi.

Sejarah Berdiri

Bapak Yakup lahir pada tanggal 12 Okteber 1962, bapak yakup merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Beliau mempunyai lima orang anak, 2 anak laki-laki dan 3 anak perempun. Dari kecil sudah menjadi tulang punggung keluarga, karena ketika berumur 5 tahun, beliau sudah ditinggalkan oleh ayahanda tercinta. Terlahir ditengah-tengah keluarga yang pendidikan agamanya sangat kuat, maka secara tidak langsung ikut membentuk karakter beliau dalam melihat keadaan-keadaan yang terjadi.

Menjadi tulang punggung dalam keluarga memang bukan hal yang mudah, ditambah dengan pendidikan yang rendah. Jangankan untuk sekolah, untuk makan sekeluarga saja masih ketar-ketir. Hingga akhirnya baliau bertekad bahwa adik-adiknya harus sekolah yang tinggi jangan seperti dirinya yang tidak pernah mengeyam pendidikan sekolah. Sejak kecil bapak Yakup dikenal dengan orang yang sangat kreatif dan inovatif.

Termotivasi dengan keadaan yang demikian, bapak Yakup mencoba mengembangkan hobi menjadi sebuah hal yang positif dan produktif. Seperti, bagaimana agar hobi tersebut bisa menghasilkan manfaat bukan hanya untuk dirinya saja tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Sejak kecil bapak Yakup sangat hobi dengan tanaman hias.

Dengan modal mental yang tidak mudah menyerah, berani dan kreatif. Hingga akhirnya pada tanggal 7 Juni 1975 bapak Yakup memberanikan diri untuk membuka usaha yang pada saat itu masih jarang dilirik oleh orang-orang, terutama di daerah Kebon Jeruk. Yaitu membuka Usaha Tanaman Hias. Tetapi, disinilah kejelian dan keberanian bapak Yakup, dimana beliau dengan cepat bisa melihat peluang, kesempatan dan keadaan yang ada.

Pada saat itu dia melihat tanah-tanah yang ada didaerahnya masih menjadi lahan yang kosong dan mubadzir. Melihat kesempatan yang seperti ini jiwa wirausahanya merasa tertantang untuk melakukan sesuatu. Bagaimana caranya agar tanah yang ada didaerahnya tidak menjadi lahan yang mubadzir. Bapak Yakup mengatakan “Dari pada tanah yang ada didepan rumah ama yang dibelakang rumah mubadzir, lebih baik digunakan biar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan produktif”.

Sebagai langkah awal, sejak usaha tanaman hiasnya lahir, bapak Yakup membeli bibt-bibit unggul yang diperlukan dan sesuai dengan jenis tanah yang ada di tempatnya. Selain itu, sosialisai dengan masyarakat sekitar (baik formal maupun non-formal), sering dilakukan dengan harapan lahan-lahan yang tadinya dibiarkan mubadzir atau terbuang percuma, lebih baik digarap agar menjadi lahan yang produktif.

Kemudian membangun jaringan ke luar juga sering dilakukannya, seperti membangun jaringan kesesama pengusaha tanaman hias, baik yang perorangan maupun organisasi atau lembaga. Seiring waktu berjalan, usaha ini berkembang menjadi salah satu pokok mata pencaharian masyarakat Kebon Jeruk. Saat ini beliau sudah mempunyai enam lahan garapan. Satu sekitar pekarangan rumah dan yang lima di luar pekarangan, bahkan ada yang di luar Kelurahan Kebon Jeruk.

Prinsip Dasar

Prinsip dasar yang dimiliki bapak yakup yang sangat khas dan unik, ini dipengaruhi oleh faktor psikologis, kultur, dan agama. Yaitu:

  1. Moral: jujur, amanah dan ihsan
  2. Inovatif dan Kreatif
  3. Independen (tidak selalu tergantung dengan pemerintah)
  4. Percaya diri
  5. Berorientasi ke depan

Visi dan Misi
Visi
Mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya agar bisa berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat. Serta mengembangkan jiwa yang mandiri tanpa tergantung dengan orang lain.
Misi

  1. Membangun diri menjadi individu yang berfungsi untuk keluarga dan masyarakat.
  2. Mengembangkan jaringan pemberdayaan masyarakat.
  3. Mengembangkan dan menumbuhkan aset masyarakat yang berbasis kekuatan sendiri.
  4. Mengambangkan potensi lokal yang ada.
  5. Meningkatkan produktifitas baik kualitas maupun kuantitas.

Sarana dan Prasarana
Kantor/gedung
Untuk hal ini bapak yakup menggunakan rumah sekaligus untuk kantor, sebagai tempat dialog dengan pegawai, rekan bisnis dan evaluasi kinerja usahanya. Selain itu, kantor juga berfungsi sebagai tempat transaksi seperti: pembayaran dan penawaran barang. Membangun jaringan juga sering dilakukan di kantor. Dari awal berdiri hingga sekarang kantor bertempat di Jl. F Pejuangan Kebon Jeruk Rt/Rw. 009/010 No. 25 Jakarta Barat.
Media

  1. Tanah lahan
  2. Pot
  3. Selang atau ceret untuk menyiram tanaman
  4. Beberapa jenis tanaman yang dibutuhkan

Hambatan dan Tantangan
Setiap orang yang menekuni sebuah usaha pasti akan menemui berbagai macam kendala, kebanyakan orang-orang yang tidak bisa eksis dalam menekuni sebuah usaha tidak mampu menyelesaikan dan menghadapi masalah, kendala dan tantangan. Begitupun dengan usaha yang dijalankan oleh bapak Yakup, tidak jauh berbeda jauh orang-orang umumnya. Sejak usaha ini dimulai tahun 1975, bapak Yakup banyak menemui berbagai macam masalah, anatar lain:

  1. Sarana transportasi kurang mendukung
  2. Kondisi kantor/gedung kurang representatif
  3. Kondisi tanah yang tidak sesuai
  4. Iklim yang tidak menentu
  5. kurang mampu menguasai bahasa asing dan Indonesia.
  6. Ada beberapa pegawai yang buta huruf atau tidak bisa membaca.
  7. Masyarakat tetangga semakin banyak yang melakukan usaha serupa.
  8. Semakin derasnya arus globalisasi.

Kesimpulan

Wirausaha adalah sikap bukan sebuah profesi. Wirausaha merupakan objek bukan subjek. Profesi apapun, keahlian apapun yang dimiliki seseorang, akan memungkinkan individu-individu tersebut pantas disebut wirausahawan. Sampai saat ini, gelar “wirausahawan” adalah gelar yang ditahbiskan relatif hanya kepada para pedagang saja. Pengertian tersebut berkembang dalam benak masyarakat sehingga mengendapkan makna yang sebenarnya lebih luas dari definisi yang ada. Wirausahawan bukanlah gelar yang berhak diklaim oleh kalangan pedagang atau pengusaha saja. Bahkan semua profesi yang mengandung kemaslahatan, merupakan “tanah yang humus” untuk menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha.

Pemahaman yang salah terhadap ruang lingkup “usaha” dan pengertian “wirausaha” ini telah membuat sebagian besar individu beranggapan bahwa dengan menjadi pedagang, melakukan proses jual-beli, maka otomatis ia telah menjadi wirausahawan. Kesalahan tersebut mengindikasikan cara pandang yang menganggap bahwa segala sesuatu bisa di-”bisnis”-kan untuk menghasilkan uang. Kewirausahaan bukan semata-mata kegiatan meraih laba, yang seringkali hinggap pada anggapan pribadi-pribadi sekuler sebagai tujuan akhir. Kata “usaha”-pun bukan monopoli ruang lingkup berdagang atau jual-beli saja. Semua profesi adalah usaha, sehingga seorang dokter, petani, pelukis, penyanyi, bahkan mahasiswa pantas digelari “wirausahawan”, persis sejajar dengan pedagang.

Dalam Islam, “usaha” sendiri merupakan salah satu syarat dari Allah Azza wa Jalla agar pintu rezeki dibukakan oleh-Nya. Berdagang termasuk cabang usaha yang menjadi pintu datangnya rezeki. Menjadi guru, dokter, pegawai negeri, tentara, mahasiswa ataupun seniman, juga termasuk profesi-profesi yang ditempuh manusia dalam membuka pintu-pintu rezeki. Dengan begitu, besar-kecilnya rezeki tidak tergantung dari seseorang berdagang atau tidak. Penentu besarnya rezeki bukanlah profesi seseorang, melainkan seberapa besar seseorang menyempurnakan usaha atau ikhtiarnya.

(Kebon Jeruk, Minggu 16 September 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: