Roy Ahmad Sketsa

Sketsa Manusia Sebagai Individu dan Makhluk Sosial

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 20 pengikut lainnya

  • Sketsa Like Facebook

Laksamana Cheng Ho dan Kelenteng Sam Po Kong

Posted by Sketsa Noise pada 4 Maret 2012


Sejarah bukanlah “ingatan” (memory, geheugen), tetapi rekoleksi (he-reinnering). Ingatan (memory) sifatnya komprehensif, sedangkan rekoleksi merupakan pengunjung yang cerdas. Mengenal apa yang dilihat dan diperhatikannya. Tugas sejarahwan adalah untuk merawat dan menjaganya.

Oleh sebab itu, penelitian sejarah bukanlah usaha mencari fakta “benar-salah” ataupun mengkorespondensikan suatu teori dengan tebakan lain. Penelitian sejarah adalah penelitian melelahkan yang seksama dan tidak tergesa-gesa. Terutama dalam menyikapi sejarah itu sendiri dan masa lalu masalahnya. Selama ini sejarah harus dilakukan untuk menandakan keduanya, baik sejarah maupun isinya. Sejarah umat manusia berkembang dalam suatu tatanan masyarakat. Karena, masyarakat merupakan suatu sistem sosial. Yang unsur-unsurnya saling mempengaruhi satu sama lain. Hingga berakibat pada berubahnya kondisi sistem secara keseluruhan. Untuk itulah, masyarakat dan kebudayaan merupakan kesatuan yang sangat sulit dibedakan. Di dalamnya tersimpul sejumlah pengetahuan yang terpadu dengan kepercayaan dan nilai. Dengan kata lain, pada kebudayaan tersimpul suatu simbol maknawi (symbolic system of meaning) yang  tidak lekang dibaca secara visual, dicerap secara batiniah. Kebudayaan, sebagai seperangkat sistem pengetahuan dan keyakinan, terwujud menjadi pola-pola tindakan (actual patterns) dan ditujukan ke pelbagai kehidupan sosial, sedalam-dalamnya, seluas-luasnya dan kapan saja. Baik kegiatan ekonomi, sosial, ritual keagamaan dan berkesenian. Karenanya, kebudayaan juga dinamakan sebagai desain (blueprint) menyeluruh dari kehidupan.

Kebudayaan merupakan khas manusia yang tidak dimiliki oleh mahluk lain. Bahkan yang bersifat transenden sekaligus. Hanya manusialah yang dengan dirinya dapat mewujudkan eksistensinya. Dengan akalnya guna memenuhi segala keinginan baik yang serupa nilai dan peradaban.[1] Peranan kebudayaan bagi umat manusia sangatlah besar. Bermacam-macam yang harus dihadapi manusia. Seperti, kekuatan alam di mana ia tinggal, maupun kekuatan-kekuatan lain dalam masyarakat itu sendiri yang tidak selalu baik baginya. Kecuali daripada itu, manusia memerlukan kepuasan baik di bidang spiritual maupun di bidang material.[2]

Bertolak daripada pengertian di atas, China pernah terlibat langsung pada proses sejarah kebudayaan bangsa Indonesia baik dari sisi spiritual maupun sisi materiil (arsitektur, pakaian, makanan, dan lain-lain), yang dapat kita saksikan lewat apa yang lazim disebut oleh sejarahwan, yaitu Sino Javanese Muslim Culture pada kurun abad ke-15 dan ke-16. Peranan bangsa China dalam proses penyebaran  Islam di Indonesia merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti lebih mendetail lagi. Karena sampai saat ini belum ada kata sepakat di kalangan para sejarahwan tentang asal-usul Islam di Nusantara ini. Ada yang mengatakan Islam Indonesia dibawa oleh orang-orang dari Gujarat (India), ada yang berpendapat dibawa oleh orang-orang China Yunnan, bahkan ada pula yang mempunyai statement bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah.[3] Menikmati pengalaman ini tentunya tidak bias terlepas dari ekspedisi Cheng Ho dan intensitas peristiwa sejarah akulturasi China di tanah Jawa dapat selalu dibaca kembali mengan menilik ekspresi simbolisme keberagaman di Kelenteng Sam Po Kong.

Terlepas dari “khilafiyah” itu, China memang pernah berperan besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Fakta ini dibuktikan dari beberapa peninggalan-peninggalan China Muslim di Indonesia. Misalnya, di Ancol Jakarta, dan Gedung Batu Semarang. Dan yang paling monumental hingga sampai sekarang adalah Masjid Agung Demak. Berdasarkan beberapa catatan sejarah, dapat dipastikan pula beberapa Sultan dan Sunan yang mempunyai andil sangat besar dalam penyiaran Islam di Jawa, ternyata adalah keturunan China. Misalnya, Raden Fatah yang mempunyai nama China Jin Bun sebagai Raja Demak Pertama, Sunan Ampel, Sunan Gunung Djati, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, peristiwa politik bersejarah dan yang paling fenomenal ialah saat terjadinya ekspedisi Cheng Ho di masa pemerintahan Yung Lo dari Dinasti Ming. Yang melibatkan ribuan orang China. Sebagian besar awak kapal beragama Islam. Beberapa petinggi ekspedisi, selain tokoh legendaris Cheng Ho, yakni Ma Huan, Hasan, Wang Jing Hong (dikemudian hari terkenal dengan sebutan Kiai Dampoawang), Kung Wu Ping, Fei Hsin, dan lain-lain, juga seorang Muslim yang dikenal taat beragama.

Menurut Parlindungan dan Slamet Mulyana, ekspedisi sejak awal abad ke-15 itu tercatat tiga kali mengunjungi Jawa.  Setiap misi muhibahnya selalu meninggalkan jejak historis yang mengagumkan. Kegiatan penjelajahan samudera yang dipimpin langsung Laksamana Cheng Ho ini tidak sekadar bermuatan politik dan ekonomi belaka, tetapi juga menyimpan “agenda tersebunyi” (hidden agenda) berupa Islamisasi. Hal ini terbukti dengan penempatan para konsul dan duta keliling Muslim China di setiap daerah yang dikunjunginya. Kemungkinan besar sebagian China Islam yang turut serta dalam rombongan Cheng Ho ini enggan pulang kembali ke negerinya. Baik karena alasan pengembangan bisnis di daerah baru yang dinilai lebih menjanjikan atau faktor kenyamanan politik, maupun alasan dorongan keagamaan untuk menyebarkan syi’ar Islam di “negeri kafir”.

Jejak-jejak historis yang ditaburkan Cheng Ho ini begitu terasa mengurat dalam benak kehidupan masyarakat Jawa. Tidak hanya muncul lewat tradisi lisan melalui tokoh mitologi Kyai Dampo Awang. Tetapi juga beberapa peninggalan kesejarahan seperti bangunan mercusuar di Cirebon maupun berbagai kelenteng kuno yang dikaitkan dengan sang legendaris Laksamana Cheng Ho. Salah satunya adalah Kelenteng Sam Po Kong di Gedung Batu Semarang.

Kelenteng ini keberadaannya sangatlah monumental sekaligus fenomenal. Sangat menarik untuk dijadikan objek penelitian dari berbagai segi. Utamanya dari segi bangunan kelenteng tersebut. Pengaruh China yang cukup kuat dan menimbulkan dugaan bahwa pada bentangan abad ke-15/16 telah terjalin apa yang disebut Sino-Javanese Muslim Culture di mana fungsi awal bangunan tersebut adalah sebagai masjid (tempat sholat Cheng Ho beserta rombongan), hal ini dibuktikan dengan adanya Bedug dan tulisan pada dindingnya dalam bahasa China yang artinya “Bacalah Al-Qur’an”).[4]

Kemudian beralih fungsi menjadi tempat peribadatan umat Khong Hu Chu (setidaknya, itulah fakta yang sekarang sekarang) merupakan fenomena yang harus kita terima. Bahkan yang sekarang terjadi: banyak sekali umat dari bermacam-macam agama “beribadah” di sana. Bisa jadi, disamping fungsi awalnya sebagai Masjid, tidak menutup kemungkinan untuk peribadatan awak kapal Cheng Ho lainnya yang non-Muslim. Karena, pada rombongan ekspedisi tersebut ada yang beragama Tao, Khong Hu Chu, dan Buddha (tiga kepercayaan tertua di China).

Namun demikian, ada kemungkinan ketiga yang muncul. Yaitu hanya  sebagai “tempat singgah” rombongan ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang tercatat tujuh kali melakukan pelayaran ke Kepulauan Nusantara. Di Semarang sendiri rombongan Cheng Ho tercatat mengunjungi sebanyak tiga kali. sehingga penulis Buku “Laksamana Cheng Ho dan Kelenteng Sam Po Kong” menduga, Kelenteng Sam Po Kong atau Sam Po Tay Djien itu “hanya sekadar” ekspresi kebudayaan China Jawa Islam yang terletak di Gedung Batu Simongan Semarang. Terlepas dari perdebatan kemungkinan-kemungkinan di atas, ada fakta menarik yang dapat kita jadikan pelajaran. Yaitu, bahwa antara China-Jawa (yang “lazim” disebut pribumi-non pribumi) pernah hidup rukun dan bergandengan, jauh dari perasaan saling curiga.

Download E-book


[1] J.W.M. Baker SJ,  Filsafat Kebudayaan Sebagai Pengantar, Kanisius, Yogyakarta, 1992, hlm. 14.

[2] Soejono Soekanto,  Sosiologi Suatu Pengantar, CV. Rajawali, Jakarta, 1982, hlm. 167.

[3] H.J. de. Graff, dkk, China Muslim di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historisitas dan Mitos, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2004, hlm. 1.

[4] Djawahir Muhammad (ed), Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, Pemda Dati II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Aktor Studio Semarang, 1995, hlm. 145.

2 Tanggapan to “Laksamana Cheng Ho dan Kelenteng Sam Po Kong”

  1. cengho ne jenenge sapta dadane gembok singo

  2. Jasa seo said

    sejarahanya bagus :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: